Sajak Buat Ayah (Pemenuh Janji)

Aku telah temukan kini karya seni paling indah
Dalam jerih payah;
Dari harum keringat mendiang ayah
Yang setiap detik pikirnya resah
"Masih bisakan anak-anakku esok masuk sekolah?"

Dengan semangat, tubuh dipaksa basah
Beserta sepasang kerbau di muka, membajak sawah
Yang luasnya tak sampai satu "H"
Dan hanya cukup hibur lara di kala senja

Aku masih teringat bagaimana kau ajarkan
Rahasia seni paling indah
Dengan tumpukan tanah basah
Akibat guyuran hujan kala pemakaman

Aku juga masih teringat
Harum angus keringat
Kita saat sama-sama buka baju di bawah panas
Sambil menyiapkan hiliran kebun tomat
Dan tak kuat dengan panas yang menyengat

Oh ayah…,

Aku kini mulai paham
Akan makna pundakmu yang lebam
Akibat puluhan tahun mencari pakan kerbau
Baik panas maupun hujan tak jadi hirau

Aku kini mulai paham
Sebab jalanmu dulu ada dalam jalanku kini
Mengukir makna seni terindah
Dalam lelah

Oh ayah..,

Ini janji sajak untukmu
Telah aku penuhkan
Sebagai tanda sama-sama pengukir seni
Terindah dalam lelah 

Sajak Buat Ayah (Pemenuh Janji)

[baca selengkapnya..]

Puisi Cinta | Di batas Waktu

Di Batas Waktu


Puisi Cinta | Di batas Waktu

Dulu pernah kita bergandengan tangan
Bersembunyi di balik remang malam
Sepenggal rembulan mengintip malu-malu
Sama seperti sikapmu untukku.

Hingga tiba di batas waktu yang luput dari harapan
Tangan kita lepas tanpa alasan
Sekuat upaya dan kesungguhan tangan kuulurkan
Tak ada angin yang sanggup menguatkan
Kecuali arus deras yang menghanyutkan segala harap.

Kau tak pantas jadi satu-satunya objek musabab
ini perpisahan terjadi
Sebab aku tak terlalu pandai
memahami rasamu,
bahkan untuk sekedar membulatkan hati, aku tak mampu.
Selalu saja jiwa dan logika ingin terbelah.

Berbagi Ruang Cinta
[baca selengkapnya..]

Sajak | Selayang Manglayang

PERCIKAN air hujan jatuh mengembang, di bukit Gunung Manglayang. Udara dingin perlahan meresap ke kulit hingga menusuk tulang. Kesunyian alam telah mengubur segala suara sumbang, yang sebelumnya selalu saja terngiang.

Di bukit Manglayang, sejanak kami menyimpan bayang. Melempar angan melayang tanpa benang. Segala gundah, penat, dan kejemuan hidup sementara tersimpan di tengah-tengah keramaian Kota Kembang. Kami berdelapan, para pencari tanjakan, demi pempertahankan nama kebesaran Community, nampak seumpama para pemuda riang. Memang sesungguhnya juga riang.

Air hujan terus mengembang. Lekukan tanah bukit cukup menampung air yang ingin sejenak bergenang. Sebelum tiba waktu mengalir kembali atau menguap ke awang.

Cukup lama dalam suasana hujan yang menyerang, memaksa kami berlindung dalam bangunan warung. Suasana nampak kumuh, memang. Atap yang hampir roboh tertahankan empat kayu setengah keropos; kayu yang sudah cukup tua usianya sebagai tiang. Bangunan tua yang belum mampu membendung hasrat kami untuk bersenang-senang.

Sajak | Selayang Manglayang

Aku mulai menalakan api unggun biar ruangan sedikit hangat dan lebih terang. Maklum, langit sedang dalam suasana murung. Mendung. Berkabung. Sebab hutan tak lagi ramah buat burung. Seperti di sini, di Manglayang.

Hingga pada waktu yang telah digadang-gadang, langit pun mengubah wajah hingga enak dipandang. Sinar mata yang ada di angkasa berbinar seterang mata kami yang selalu senang. Langkah kami bergegas meninggalkan warung. Tentu, kebun Pinus menjadi arena aksi tawa kami selanjutnya; kebun pinus bagi kami bak lapangan lempang. Latar ideal berpose di depan kamera berlensa tele panjang. Sayang, tamasya kali ini hanya ada Tommy, Nurachman Wahid, Wildan Assagap, Lili, Irfan Al-Faritsi, Allan Nukita, Darma Legi, dan Amin R. Iskandar; tanpa Agung.

Di taman pinus, sesekali bercanda dengan burung. Burung yang hinggap dan berpindah dari satu batu ke batu lain yang menyerupai gunung. Seakan sedang berceloteh bahwa kami dan burung sedang sama-sama riang. Mengepakkan sayap mengarungi alam bebas, di udara melayang-layang. Sekalipun tak bersayap, kami tetap mengepakkan angan di angkasa, juga melayang-layang.

Bagi kami, aktivitas seperti ini adalah rutinitas yang dilakukannya sudah sering. Kalau tidak satu minggu, ya satu bulan sekali; yang penting ikatan kami terus tersambung. Dan, bukan hanya di Manglayang. Sempat juga kami berkunjung ke Padalarang dan Galunggung. Ya, begitulah. Kami memilih gunung sebagai tempat singgah karena (katanya) dekat dengan Zat yang Agung. Manusia hanya kepada-Nya pantas berlindung.

Sepulang dari manglayang, harapan kami tak kembali pusing. Manglayang, tentu dari memori takan pernah terbuang. Sekalipun tidak ke Manglayang, kami akan berkunjung ke lain gunung; pada masa mendatang. Kalau waktu dan bertemu dengan nasib untung.

(Geus ah, hese neangan kecap nu akhirna “ng”. Itung-itung latihan ngabeungharkeung kekecapan we ieu mah)
[baca selengkapnya..]

Cerpen | Jum'at

Cerpen | Jum'atCerpen | Jumat Dalam - Sibakan angin panas, kau berdiri mematung. Seraya dengan itu kau lempar pandangan kosong dalam puing-puing pepecahan. Hari ke 17 dari bulan Juli 2009 itu, yang kalangan agamawan (islam) mengatakan hari terbaik, tempat waktu mustajab untuk berdo'a, dan hari ketika Tuhan melemparkan hamba-Nya yang beriman ke dalam surganya. Meninggalkan kesan memilukan dalam sanubarimu. Ketidak percayaan, kegalauan dan kekecewaan beraduk-baur menjadi satu. Kau tampak pucat tanpa nyawa.

“Padahal, semalam tadi aku memandangmu hingga larut. Dari tempat ini pula. Dan masih aku kagum akan keelokan paras dan ketinggian bangunanmu.” Gumammu lirih, tidak menentu siapa orang yang kau tuju, dalam ucapanmu. “Namun kini, jangankan menarik orang untuk mampir dan menginap, sekedar lewat di dekatmu mungkin sangat enggan.”

Sementara sebagai pekuli tinta, tanganmu tak kuasa mengangkat kamera di kanan. Apalagi menekan tombol demi menggambar sisa reruntuhan dengan cahaya. Tanganmu bergetar, gigimu berbunyi. Menahan amukan di dada. Hanya mata saja yang menyapa pecahan kaca, besi yang membengkok dan percikan darah yang masih basah nan bau anyir. Tidak lagi terpikir wilayah profesi dan kemanusiaan yang terwarnai nilai-nilai moral.

Masih saja kau tidak mau beranjak dari tempatmu berdiri. Meski sekeliling komplek Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot masih riuh diserbu pandangan orang, dari jauh. Garis pembatas yang dipasang polisi membentang tegas, melarang orang sembarang mencampuri kawasan ledakan.

Dalam pikirmu mengembang satu angan. Apa sengaja orang meledakkan bom di hari mulia ini, agar sang mati lantas di lemparkan Tuhan ke surga-Nya. Pun pelaku merasa benar-benar syahid karena mati di hari itu. Atau karena dilatari ketidak insyafan sebagian kalangan yang tak suka. Bagi dirimu memang sudah tak jadi persoalan ini berada di Indonesia atau bukan. Tapi kau selalu dipercaya sebagai orang manusiawan peduli sesama, kedamaian, dan keasrian hubungan kehidupan dunia. Tak mengherankanlah jika jiwamu dilimpud nafsu, amarah yang tiada batas. Tapi tetap mesti diingat, bahwa kau sesungguhnya tidak tahu apa-apa. Ke siapa pantas marah, ke mana mesti meluapkan nafsumu.

Kau baru saja menjadi insyaf, ketika layangan anganmu dipecah sesosok tinggi besar yang menabrakmu. Sosok berambut pirang berkulit bule melangkah tergesa-gesa. Koper dan tas besar disandangnya sekaligus. Entah apa yang dibicarakan dalam bahasanya yang nat-nit-not. Hanya kau hanyut dalam prasangka, paling-paling mereka berharap segera beranjak dari negeri penuh misteri ini.

Selepas menengok angka jam yang terpasang di sebelah kanan dari tanganmu. Lekaslah kau pergi memenuhi kesadaran ketuhanan.
# # #
Matahari itu kian meninggi. Untuk ukuran udara di Jakarta, yang hampir seluruh bangunan tinggi ditutupi kaca. Jangankan hari segitu, malam pun cukup memeras keringat. Seiring gerak langkahmu, kau abaikan basah dipunggung dan dahimu. Kalau di tangan dan di kaki, itu sudah tentu kau tak hiraukan. Ingin hati memang lekas tiba di rumah Tuhan, tapi apa daya, pemandangan tadi membuatmu lunglai, gontailah langkah-langkahmu.

Tibalah kau di halaman rumah Tuhan dalam cerita yang dipersingkat. Namun tidak lantas mengambil air pembasuh muka, kedua tangan, kepala, dan sepasang kaki sebagai syarat sahnya ibadahmu, kepada Tuhanmu.

Hanya mengambil tempat duduk dan memutar pandang di sana. “Oh, biginilah kebiasaan orang kota menjumpai Tuhannya,” pikirmu. Sungguh berbeda dengan apa yang biasa kau alami di dusunmu jauh, di kaki bukit gunung Galunggung. Dalam perjalanan sang imam memberikan ceramah di atas mimbar. Sekelompok anak sekolah dasar memangku Koran, menawarkanna. Barang kali kau mau beli, untuk membantu tambah-tambah nafkah dan biaya sekolah mereka. Belum lagi bagian pemuda yang lewat dari ukuran dewasa, menggoyang-goyangkan tangan, menyikat sepatu para tuan-tuan kantoran. Persetanlah segala apa yang disampaikan sang imam di depan sana, seakan ada di pikir mereka.

Aku masih saja duduk, menunggu giliran mendapatkan air pembasuh muka, kedua tangan, kepala dan sepasang kaki yang bermata. Namun tak kunjung kebagian. Karena begitu banyak orang dalam antrian. Dan sayang, di tengah-tengah penantian, sang air habis nan kering. Kandaslah harapanmu untuk menyapa tuhanmu dengan ritual.

Meski demikian adanya, kau tidak juga beranjak dari tempat dudukmu. Rasa penasaranmu belum habis. Akankah si anak penjual koran bekas dan penyemir sepatu akan ikut bagian dalam penyapaan Tuhan? Karena itu kau tetap saja diam di tempatmu. Hilir mudik peserta ritual berdatangan. Harapan mereka sama, ingin kebagian jatah pemenuh syarat sahnya ibadah, air. Tapi ya apa mau dikata, toh dari tadi airnya sudah habis.

Ada yang bersikeras dengan membeli air Aqua botol. Dengan air itu ia bersuci. Kau jumpai di sana pemandangan yang unik. Yang mana membasuh tangan seadanya saja, tak sampai ke sikut sebagaimana diajarkan Tuhan pada ummatnya.

Ya., beginilah mungkin kemuliaan ini hari bagi sebagian orang. Termasuk kau, yang ketika jamaah bubar, tukang semir bubar, tukang korang bekas bubar, dan kau pun bubar dengan mereka. Kau hanya jadi penonton hari itu.

Dalam kepergianmu, kau berguman lirih. “Karena model ibadahnya seperti ini, maka tidaklah heran hotel itu meledak.” Sambil tertawa sini, kau lantas melanjutkan. “Apa hubungannya. He he he.” Tutup mulutmu.
[baca selengkapnya..]

Puisi | Tak Ada Kata Lagi

Puisi | Tak Ada Kata Lagi

Puisi | Tak Ada Kata Lagi

Tak ada kata lagi untuk memenuhi undanganmu.
Denang sepenuh insyaf telah aku utarakan kala itu.
Sementara purnama memandang, menyaksi.
Tentu takan pernah lupa.

Memang..,
Aku masih menyimpan satu janji.
Yang entah mampu ditepati, aku pun tidak pasti tahu.

Tak ada kata lagi untuk memuaskan hasrat sanubarimu.
Seperti bentangan Ramadhan di bawah beringin itu.
Saat kau sandarkan kepalamu di dada bidang ini.
Dan niatku tuk beranjak ke Ibu Kota kau cegah.
"Tak perlulah kau panjangkan rambutmu lagi." Tukasmu berkaca-kaca.

Sebab tak ada kata lagi.
[baca selengkapnya..]

Puisi | Bangga Karena Bendera

Puisi | Bangga Karena Bendera

Puisi | Bangga Karena Bendera


Kau lihat itu berkibar-kibar.
Si Merah-Putih mendadak bingar.
Yang tiada pun direka dengan sesumbar.

Ah..,
Kau perhatikan saja,! itu takan lama.
Esok juga bertumpuk tak berguna.
Mungkin dalam kubangan basah.

Sebatas itu kah kebahagiaan kita?
Bangga sehari karena bendera.
Sang Merah-Putih yang diproklamirkan Bung Karno-Hatta.
Oh.., ya sudah jika hanya itu saja.

Apa pernah mampir dalam bersitmu?
Tatkala selamatkan bendera selain tanggal itu.
[baca selengkapnya..]

Berita - Riwayat Sang Maestro Pencipta Tari Pendet

I Wayan Rindi (1917-1976)

Menekuni dunia kesenian – terutama seni tari — adalah hal yang paling menyenangkan bagi I Wayan Rindi. Ia dikenal luas oleh masyarakat Bali sebagai penari; banyak ragam tari yang ia perankan di masanya, seperti tari Legong dan tari Kebyar Duduk. Selain untuk ekspresi dirinya secara pribadi sebagai penikmat tari, bagi Rindi, kesenian juga mesti diwariskan dan menjadi khazanah milik setiap generasi. Supaya setiap orang dapat menikmati berbagai kearifan lokalnya yang kaya akan budaya. Tak urung, demi melestarikan satu macam bentuk kesenian, sekecil apa pun kesenian itu; ia gigih mengajarkan segenap apa yang dimilikinya kepada generasi muda di Bali. 

Perkenalan Rindi dengan seni sudah dimulai sejak usianya masih dini. Kala itu, sejak masih kanak-kanak, seniman kelahiran Banjar Lebah Denpasar tahun 1917 ini, dipungut oleh seorang petani dan dibawa ke Banjar Tegal Linggah. Sayang, tidak satu sumber pun yang menerangkan siapa petani yang memungutnya itu. Di daerah ini, oleh sang petani yang memungutnya, Rindi dikenalkan dengan para empu tari ternama. Sebut saja mereka adalah I Wayan Lotering dari Kuta; I Nyoman Kaler dari Pemogan; serta penabuh I Regog dari Ketapian. Selain itu, selama dalam masa belajar, Rindi berada di bawah pengawasan dan disiplin ketat dari sang Kakak Made Netra. Masa itulah yang menjadi batu loncatan awal bagi Rindi menyelami dunia seni, khususnya seni tari. 

Riwayat Sang Maestro Pencipta Tari Pendet

Satu hal yang menjadi kelebihan, adalah dari beberapa guru tari yang berbeda; Rindi mendapatkan kombinasi energi-energi seni tari yang begitu kaya. Tak heran jika ia tumbuh menjadi seniman tari yang utuh; kekurangan dari guru yang satu, dilengkapi oleh ilmu dari guru lainnya. Artinya, boleh dikata, ia menguasai teknik tari berenergi taksu, sekaligus pula menubuhkan citarasa intuisi yang selalu berkembang maju. Sehingga, pada tahun 1930, masyarakat Badung tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran tari Gandrung Lawangan; yang tiada lain tarian tersebut diperankan oleh remaja Rindi. Masyarakat berhak kaget, sebab kala itu, sedikit sekali anak usia belasan tahun sudah memiliki pesona gerak-gerik tari begitu kaya nan elok dalam pandangan penonton. 

Lambat tapi pasti, dari penampilan awalnya itu, popularitas Rindi merangkak naik; hampir seluruh pecinta seni tari di daerannya mengenal Rindi remaja ini. Berbagai undangan ia hadiri dengan menyuguhkan berbagai keahlian bertari yang berbeda. 
Seiring berjalannya waktu, Rindi tumbuh dewasa secara usia dan matang dalam hal pikiran dan visi berkesenian. Sehingga, kehadirannya selalu ditunggu oleh segenap masyarakat pencinta seni –khususnya seni tari—di Bali. Sejak itu, ia mulai menapaki ruang-ruang antusiasme masyarakat akan kegandrungan pada keindahan tari dan tabuh Bali yang berenergi. 

Saking pentingnya peran Rindi di tengah-tengah massa penari, masyarakat mendaulatnya untuk membiakkan kharisma seni tari pada berbagai lapis masyarakat. Mau tidak mau, karena sudah didaulat, Rindi pun menjadi guru bagi seniman-seniman seni pertunjukkan muda Bali. Kini, seni pertunjukkan itu dikenal dengan nama melenggang. Tak urung, Rindi pun berhasil melahirkan penari-penari terkemuka yang dipercaya dapat meneruskan kariernya itu. Beberapa di antara penari itu adalah Ni Ketut Alit Arini, I Ketut Rina, dan banyak lagi murid-murid lainnya. Sudah barang tentu keempat anaknya yang teraliri darah Rindi: Luh Merti, Made Netra, Nyoman Suyasa, dan Ketut Sutapa. 

Melalui perannya sebagai guru, Rindi melakukan transfer pengetahuan terhadap murid-muridnya secara tegas dan dikenal cukup keras. Menurut pandangan Rindi, syarat penting yang mesti ditekankan sejak awal bagi para calon seniman; adalah mengasah ketajaman dalam menjiwai rasa tubuh. Sementara tekhnisnya, ia menjalankan beberapa fase yang dikenal dengan istilah ngagem, ngelung, ngelayak, nyregseg, dari tarian legong maupun kebyar duduk ditimbang penuh perasaan. 

Peranan Rindi sebagai guru diakui oleh salah satu muridnya Ni Ketut Arini. Rumah Arini tidak jauh dari kediaman mendiang Rindi, jaraknya sekitar 40 meter ke arah utara dari rumah Rindi, tepatnya di Jl. Kecubung Nomor 80. Ni Ketut Arini sendiri, hingga kini masih memelihara warisan gurunya dengan mendirikan sebuah perguruan tari dengan nama Sanggar Tari Warini. Nama sanggar ini pun terpampang di hadapan rumah dengan menggunakan kayu putih. Ratusan anak terdaftar sebagai murid di sanggar ini. Tidak hanya warga Bali, tapi banyak juga murid yang berasal dari pulau Jawa; bahkan dari mancanegara. Tercatat, sekarang saja, ada lima orang warga Malaysia yang ikut belajar menari dan sudah dapat dikatakan mahir dalam peragaan tari. 

Tekad Arini dalam mendirikan sanggar tari, tidak jauh dari alam pikir gurunya; sama-sama berharap supaya kesenian tari dapat diwariskan dan dinikmati oleh setiap generasi. Kesenian diabadikan sebagai khazanah kekayaan daerah Bali tersendiri. Setidaknya, jika pada akhirnya ia tutup usia nanti, khazanah kebudayaan Bali yang salah satunya seni tari, tidak sampai ikut punah. Seperti ketika meninggalnya Rindi, tari masih ajeg berdiri di Bali hingga kini. 
Dari pengakuan Arini, perjalanan hidupnya di dunia tari dan apa yang dimilikinya sekarang; tidak terlepas dari bimbingan I Wayan Rindi. Bahkan, secara ikatan darah, Rindi dan Arini masih dalam ada satu kekerabatan. Boleh disebut, Rindi adalah paman bagi Arini. Saban hari di waktu kecil, perempuan kelahiran 15 Maret 1942 ini selalu berada di rumah pamannya itu; menonton orang berlatih tari pada Rindi. Lama kelamaan, hati Arini terpincut dan akhirnya memutuskan untuk ikut berlatih tari. Aktivitasnya ini ia lakoni sejak usia tujuh tahun. 
Masih menurut penuturan Arini, pada suatu ketika, Rindi pernah mengungkapkan keinginannya untuk melahirkan sebuah tari penyambutan untuk tamu. Dengan ditemani salah satu kawan yang sama-sama mengajar tari di rumah Rindi yang bernama Ni Ketut Reneng; keduanya memutuskan untuk membuat satu macam tarian dengan mengambil pakem Tari Pendet Wali sebagai roh tariannya. Ini, terjadi dalam dasawarsa 50-an. Sementara, jika merujuk pada Wikipedia, Tari Pendet asal mulanya adalah salah satu bentuk tari pemujaan yang kerap ditampilkan dalam ritual-ritual persembahyangan umat Hindu Bali. 

Meski demikian, baik Rindi maupun Reneng, sama-sama tidak menghilangkan unsur gerak dan bentuk kostum tari yang menjadi pakem tari sebelumnya (Tari Pendet Wali). Hanya, mereka memodifikasinya dan mengubah fungsi tarian menjadi tarian penyambut tamu. Salah satu bentuk koreografi hasil modifikasi tersebut adalah penambahan adegan pelemparan bunga ke arah tamu di bagian akhir sebagai wujud penghormatan akan tamu. 
Perundingan yang begitu a lot antara dua orang pelaku tari terkemuka, adalah kesepakatan untuk menamai tarian baru itu dengan nama Tari Pendet Pujastuti. Kurang lebih mengandung arti sebagai lambang penyambutan para Dewata yang turun ke alam dunia. Penyambutannya diperagakan di rumah peribadatan umat Hindu; Pura.

Sementara terma pendet, boleh disebut sebagai bentuk persembahan dalam bentuk tarian upacara. Pendet dapat diperankan oleh setiap orang; mulai dari pemangku pria dan wanita, kaum wanita, sampai gadis desa. Proses pengajarannya pun begitu sederhana, yakni cukup dengan mengikuti gerakan yang jarang dilakukan secara banjar-banjar. Seumpama para gadis muda yang cukup mengikuti gerakan para wanita yang lebih senior dan mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik. 

Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Tari Pendet menjadi tari "ucapan selamat datang" yang ditujukan terhadap setiap tamu dari mancanegara yang sengaja menikmati eksotisme Pulau Dewata. Meski demikian, dari generasi ke generasi, para seniman tidak mengabaikan anasir ke-sakral-an dan religiusitas tarian yang diubahnya. 

Sementara, sebagai ajang promosi atau langkah sosialisasi, tari ini dipentaskan untuk pertama kali di salah satu hotel di Bali (sekarang hotel itu bernama Inna Bali Hotel), tepatnya di Jl. Veteran. Arini muda, murid Rindi –bersama Ada Gusti Putu Sita, Luh Roni dan Wayan Merti—adalah orang pertama yang memeragakan Tari Pendet guna menyambut kedatangan wisatawan asing. Bagi Arini dan tiga sahabatnya, ini merupakan sebuah kehormatan tersendiri. Sebagaimana diungkapkan guru besar Seni Karawitan ISI Denpasar Prof. Dibia, untuk pertama kali Tari Pendet diperagakan hanya oleh empat orang penari saja. Yang mana masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya. 

Dalam perkembangannya, selain untuk menyambut wisatawan asing, Tari Pendet juga diperagakan setiap persiden Soekarno beserta wakilnya Hatta berkunjung ke Bali. Upacara penyambutan ini biasa digelar saat Presiden dan Wakil Presiden ini mulai menginjakkan kakinya di Bandara Ngurah Rai atau di kantor Gubernur Denpasar, Bali. Berkat sering ditampilkan di hadapan orang-orang terkemuka, popularitas Tari Pendet ikut terdongkrak naik. Seiring dengan itu pula, nama Rindi pun kian semerbak hingga mancanegara dengan gelar “sang maestro pencipta Tari Pendet”. 

Modifikasi terhadap Tari Pendet terjadi lagi pada tahun 1961, yang mana beberapa seniman seperti I Wayan Beratha mengubah pola jumlah penari yang asalnya empat orang ditambah menjadi lima orang penari. Tak kurang luar biasa lagi pada tahun 1962, I Wayan Beratha menyuguhkan Tari Pendet dengan jumlah penari yang tidak sedikit. Bayangkan, sebanyak 800 orang penari disertakan dalam pagelaran Tari Pendet massal kala itu. Tarian ini bertepatan dengan momentum dalam rangka memeriahkan upacara pembukaan Asian Games di Jakarta. 

Bagi Rindi, menyaksikan perkembangan Tari Pendet yang diciptakannya cukup sampai tahun 1976 saja. Pasalnya, pada tahun itu, ia dipungut oleh sang penguasanya dengan damai; ia meninggal dunia setelah puluhan bahkan ratusan orang berhasil ia ajarkan makna dan gerakan tari. Tinggal murid-muridnya dan anak keturunan yang setia memelihara dan menularkan nilai-nilai seni itu ke setiap generasi. 

Sementara, dari sekian lama bergelut dengan dunia tari, mungkin tidak sepintaspun terbersit dalam alam pikir Rindi untuk mematenkan buah karyanya itu. Selain dengan alasan belum adanya hak paten waktu itu, juga karena Tari Pendet mengandung unsur keluasan nilai religius dan sakral. Sehingga, manusia yang lemah model Rindi; tidak diberi keberanian untuk mempatenkan Tari Pendet sebagai hasil cipta manusia. Karena, sebagai mana diungkapkan anak bungsunya Ketut Sutapa, Tari Pendet sudah dianggap sebuah karya yang begitu luar biasa. 

Akhir-akhir ini, jauh hari setelah I Wayan Rindi dalam kedamaian alamnya, peninggalan kreasinya sedang dalam gonjang-ganjing rebutan antara Indonesia-Malaysia. Hal ini bermula dari fenomena pencantuman adegan tari Pendet dalam sebuah iklan Visi Year Malaysia. Memang, secara eksplisit, Malaysia tidak secara terang menyatakan mengklaim Tari Pendet sebagai bagian dari kebudayaan bangsanya. Bahkan, mereka menampik sudah bertindak demikian. Pasalnya, sebagaimana diutarakan oleh Kuasa Usaha Sementara Duta Besar Malaysia Amran Mohammad Zein, iklan yang menayangkan tarian menyerupai adegan Tari Pendet tersebut merupakan buah produksi perusahaan swasta, bukan pemerintah. Jadi, secara institusional, Malaysia mengakui tidak pernah mengklaim Tari Pendet menjadi bagian kebudayaan bangsanya. 

Sayang, luapan amarah warga Bali tak bisa dielakkan; terutama dari kalangan budayawan dan keturunan Rindi yang tahu persis sejarah terbentuknya Tari Pendet ini. Pasalnya, telah banyak kasus persengketaan Malaysia-Indonesia baik di ranah budaya maupun wilayah perbatasan Negara. Tercatat, selama ini, negeri Jiran itu telah mengklaim dan mematenkan budaya batik, Tari Reog Ponorogo, musik angklung, lagu Rasa Sayange dari Maluku dan lagu Es Lilin dari Sunda. Belun lagi masalah perbatasan dan pulau di wilayah Indonesia yang diakui Malaysia. Adalah wajar jiga rasa khawatir kembali melanda warga Indonesia. Jangan-jangan, ini merupakan signal awal akan dipatenkannya kembali satu dari sekian banyak budaya Indonesia. 

Memang, tidak ada dalam bayangan kita apa kira-kira yang dirasakan Rindi; apakah akan murka, sedih, atau malah gembira karena dengan kejadian ini Tari Pendet kembali dikenal banyak orang. Meski banyak orang yang beranggapan Ridi akan merasa sedih, kiranya itu hanya dalam raba-raba manusia. Yang paling terpukul, tentu saja pihak keluarga Rindi sebagai pewaris kreasi seni sang bapak. Bahkan, Arini yang menjadi pemeran pertama pagelaran Tari Pendet menyatakan marah terhadap Malaysia. ''Makanya saya sedih dan marah begitu mendengar Malaysia mengakui Tari Pendet Bali. Saya saksi hidup, dua tokoh itu (Rindi dan Reneng) membuat Tari Pendet Penyambutan,” tukas Arini. 

Tentu, menghargai dan melindungi setiap hasil karya anak bangsa adalah kewajiban Negara. Rindi boleh tidak berniat mempatenkan buah kreativitasnya dalam memodifikasi seni tari. Tapi, bukan mengandung arti pemerintah berhak untuk hanya berdiam diri; baru bereaksi manakala ada pihak luar yang mengangkangi. Rindi, kini telah damai di alamnya sendiri. Sementara Tari Pendet yang menjadi buah kreasinya, siapa pun yang mempatenkan dan mengakuinya; selamanya akan tetap milik Rindi sebagai lambang keluasan nilai spiritual dan sakral. 


Biodata 

Nama Lengkap : I Wayan Rindi 
Nama Panggilan : Rindi 
Tempat/Tgl. Lahir : Banjar Lebah, Denpasar, Bali, tahun 1917
Status Perkawinan : Menikah, Empat anak 
Wafat : tahun 1976

Karier 
- Sejak usia dini telah menjadi penari 
- Guru Seni di Bali
[baca selengkapnya..]

Cerpen - Percakapan Di Malam Natal

TOPAN -  adalah seorang mahasiswa yang sedikit dikenal di kampusnya. Tapi, bukan karena kepintaran atau kenakalanya. Melainkan karena ia seorang yang tidak teratur, aneh dan –kata sahabat-sahabatnya—tak tentu pegangan hidup, unprinsifil. Kadang bergerombol, tapi sering dijumpai dalam kesendirian. Ia bagaikan orang asing di tengah-tengah keramaian, terkenal dalam kehening-sepian. 

Seperti di suatu malam, ia duduk termenung seorang diri. Punggungnya disandarkan pada tiang bendera di halaman depan kampus kuliahannya. Sesekali kepala mendongak ke atas, mamandangi langit luas, tak jarang sampai merebahkan tubuh di atas tembok yang menghampar. Nampak awan samar-samar berkejaran disiram gemerlap cahaya bintang; tidak hingga terang akibat bulan bukan pada waktu purnama di mana ia menampakkan diri seutuhnya. 

Sungguh kehidupan Topan teramat sepi, sunyi dan sering hanya sendiri. Kesendiriannya malam itu bukanlah kali pertama ia alami. Meski tidak setiap hari, tapi orang kerap menjumpainya termenung di tempat yang sama, di malam-malam dingin sekalipun. Bahkan di musim hujan, aktivitasnya hampir tidak jauh berbeda. Ia baru akan berteduh jika hujan benar-benar turun. Kalau nasibnya mujur, ia akan mendapatkan teman tiba-tiba dan ditinggalkan tiba-tiba pula. 

Cerpen - Percakapan Di Malam Natal

Suatu kali, Topan terdengar bertutur kepada Eci. Eci adalah sahabat karibnya yang sedari awal masuk kuliah kerap bersama. Sahabat yang kesunyian hidupnya tidak jauh beda dengan dirinya. Ia berkata “Tahukah kawan, apa yang membuat kita merasakan penderitaan yang teramat akut ?” 

Sahabatnya diam; tidak menjawab. 

Merasa tidak ada respon, Topan menjawab pertanyaannya sendiri. “Menjadi orang yang terbuang dari generasinya adalah insan yang paling malang di alam kehidupan ini, kawan.” Katanya. “Aku kerap membayangkan, betapa menderitanya si Binatang Jalang yang terbuang dari kumpulannya, Chairil Anwar. Saking kesepiannya, ia sampai tak sadar mengucapka ‘hidup adalah kesunyian masing-masing’, hingga enggan berbagi nasib. Dan itu hampir menimpa nasikku,” lanjut Topan dengan suara sedikit terdengar pendar, tanda penghayatan dari lubuk hatinya yang dalam; penuh luka. “Segalanya didapat dan dihabiskan sendiri, siapa yang sengaja untuk peduli?”, akhir dari ucapannya. 

* * *

Malam semakin larut, Topan masih duduk seorang diri. Angin sepoi dengan udara yang dingin, bukan lagi makhluk asing menyapa tubuh ceking Topan; hingga menusuk-nusuk tulang. Entah apa yang ada dalam kepala yang terbungkus oleh rambut hitam, gondrong dan terurai tanpa aturan. Apa yang dirasakan di dalam benaknya dan apa yang dipikirkan malam itu? Entahlah, misteri. 

Tiba-tiba ia merasakan getaran ringan di pahanya, disusul dengan gerak tangan kanan yang masuk ke saku celana. Tidak lama kemudian, tangannya ditarik dengan menggenggam sesuatu. Ternyata, getaran itu berasal dari peringatan nada sambung pesan handphon milikinya. Dengan menekan beberapa tombol, Topan dapat membaca isi pesan yang diterimanya. 

Ia membaca. “Hilangkan rasa benci di hati, buang rasa benar sendiri, wujudkan keharmonisan hidup beragama dengan mengucapkan ‘SELAMAT NATAL’ bagi saudara agama kita.” Demikian yang tertulis dalam pesan singkat tidak dikenal pengirimnya. Karena belum tercatat identitas si pengirim di dalam handphon Topan. 

Nampaknya, Topan baru sadar kalau malam itu bertepatan dengan malam perayaan hari besar umat Kristiani; Natal. “Bahagianya umat kristiani malam ini,” pikirnya. Mereka dapat berkumpul bersama keluarga, menyalakan lilin, bernyanyi riang bersama, menatap pohon natal yang terang dengan lampu warna-warni, dan siap-siap menanti Sinterklas yang memberikan hadiyah saat bangun dari tidur. Tidak seperti dirinya yang duduk seorang diri, laksana anak hewan kehilangan induknya. Ingin rasanya Topan mengucapkan selamat Natal pada penganut ajaran Kristiani. Tapi siapa? Topan tidak tahu harus mengucapkan itu pada siapa, kecuali mengucapkannya secara perlahan ke langit tinggi. “Selamat Natal, wahai hamba Tuhan yang setia pada ajaran-Nya,” katanya lirih. 

Tidak lama setelah mengucapkan kalimat “selamat natal”, Topan teringat pada pesan singkat di handphonnya. Lantas ditulisnya kalimat “Buat apa Agama?” dan dikirim kemudian. 

“Terserah pada insan di Dunia; mungkin untuk dicaci atau dipuji, mungkin untuk dibenci atau dicintai, mungkin untuk dijauhi atau didekati… mungkin kamu punya opsi lain?” Demikian balasan yang datang dari seberang diakhiri dengan kata tanya (?). 

Kembali Topan terdiam, menatap langit luas dan terlihat menarik napas panjang. Seakan-akan ada pertanyaan misterius yang ingin ia cari jawabannya di langit. Pesan singkat yang baru saja dibacanya, ternyata terlalu berat dipahami bagi seorang manusia yang alpa akan pengetahuan nan sepi akan pengerti. 

Topan kembali menulis “Kenapa demikian? Lantas apa itu agama? Kenapa pula kau suruh aku tuk ucapkan selamat natal pada mereka? Bukankah terserah insan di Dunia?” kali ini, Topan memburu dengan tergesa, jelas menandakan adanya rasa kepenasaran. 

“Memang demikian nyatanya. Agama adalah pesan suci dari langit yang tidak sedikitpun membawa noda. Pesan langit untuk dibumikan dalam kehidupan sebagai ujian keta’atan manusia. Sejatinya manusia segan untuk menodainya”. Orang yang masih belum Topan kenali itu membalas. 

Tidak lama kemudian handphon Topan bergetar dan di sana tercatat “Ucapan selamat sekedar untuk menghargai sesama insan. Sebab, untuk saling menghargai selalu membutuhkan lisan yang kerasan. Semoga saja keharmonisan hidup menjadi nisan keniscayaan”. 

Topan semakin penasaran hatinya. Jantungnya bergolak kencang hingga terasa berdegup. Pikirannya ikut melompat-lompat. Kali ini, lama sekali ia berpikir. Sampai, hanphonnya ia tanggalkan dari genggaman untuk sementara waktu. Tiba-tiba langit berubah menjadi layar kaca yang besar baginya. Di sana ia menonton siaran langsung manusia menyembelih manusia atas nama Tuhan, kekerasan atasnama agama, pemerasan dengan kedok dakwah, sampai sebuah peperangan akbar yang disucikan. Tubuhnya menggigil kencang seperti orang yang demam parah; ngeri, takut, marah, sedih, dan entah perasaan apa lagi yang teraduk dalam dada Topan yang naïf, awam, dan nista. 

Dalam kegamangan akal sehat, ia mengambil handphon dan tanpa kesadaran menuliskan. “Keharmonisan yang dilukis dengan darah, lisan kerasan yang mematri dogma, yang satu mendominasi yang lain, itukah maksud keniscayaan yang diharapkan?” Tulisannya dengan cepat dikirim pada orang yang kini tidak lagi peduali untuk ia kenali. 

“Darah tumpah karena lisan yang kurang kerasan, karena hati yang tidak bersuci, karena naluri rakus kehewanan yang tidak sanggup letakkan orang lain sebagai ‘aku yang lain’.” Katanya dari seberang. 

Untaian kalimat kali ini begitu enak didengar, tapi cukup pedas untuk dirasakan. Terutama bagi Topan, yang sering dengan ucapannya lukai hati orang lain. Lidah yang lancang memaksa Topan berkata sembarangan, tidak disaring, dan asal berbunyi. Hal ini menandakan kedangkalan ilmu. Kedangkalan ilmu berakibat pada kepongahan etika. Kepongahan etika berujung pada murka yang berbuah saling melukai. Ia pun sadar dan teringat pada nasehat sahabatnya; Eci yang mengungkapkan sabda Rasul yang menyatakan bahwa “Apabila telah sempurna akal manusia, maka Ia akan sedikit dalam berucap.” Namun kali ini, Topan terganjal dengan kalimat “memposisikan orang lain sebagai ‘aku yang lain’”. Ia pun menulis. “Kenapa harus menjadi aku yang lain? Apa maksudnya?” dan dikirimkannya. 

“Bukan menjadi aku yang lain, tapi menempatkan orang lain sebagai aku yang lain. Artinya, orang lain adalah makhluk yang sama dengan kita, keberadaannya sebuah keniscayaan demi terwujudnya pluralitas kehidupan”. 

“Mengapa harus demikian.” Tanya Topan lagi. 

“Sebab, dengan demikian, satu sama lain tidak akan saling menyakiti; apalagi sampai melukai. Sekalipun berbeda pandangan, pendapat, bahkan keyakinan. Menyakiti orang lain sama halnya dengan menyakiti diri sendiri, apalagi mengatas namakan agama bahkan hingga disucikan. Itulah bentuk penodaan manusia terhadap pesan langit yang suci tadi,” kata orang yang entah dari mana datangnya. 

Kali ini, Topan memilih untuk lebih banyak berpikir. Ia berhenti untuk bertanya, tidak lagi membalas pesan singkat dari orang asing yang entah siapa, dari mana, dan agama apa yang dianut, diyakininya. Banyak bertanya bukanlah tanda orang pintar. Sebaliknya, hidup yang manusiawi adalah hidup yang direfleksikan, bukan dipertanyaka. 

* * *

Hujan mulai turun. Tetesan air gerimis satu-persatu jatuh tepat di wajah Topan. Dingin, perih, dan tubuhnya semakin menggigil. Di sela ketidak stabilan tubuh dan pikirannya, Ia menyempatkan untuk bergumam. “Mungkinkah yang baru saja datang dan pergi adalah malaikat?” Malaikat yang datang menyuguhkan hadiah terbesar di malam natal, walaupun sebatas percakapan yang singkat. 

Serbuan air hujan yang semakin kerap, memaksa Topan mengangkat bahu; bangun dan melangkahkan kaki dengan ucapan lirih penuh makna. “Selamat hari natal, kalaupun bukan untuk orang lain, biar bagi diriku sendiri.”(***) 
[baca selengkapnya..]

Puisi - Menduga Pahala

Menduga Pahala

Puisi - Menduga Pahala

pernahkan ada sadar 
akan lapar yang membungkus dosa 
seluruh ayat dibuat sia-sia. 


tentulah bukan niat untuk menuduh 

di antara kita 
menganyam amal berharap pahala 
sementara sebatas menduga-duga; 
dan yang diharap melengos jauh. 


nun.., 

hanya satu hurup disimpan di ujung 
menunggu waktu berbuka tiba 
meski sekedar untuk mencicipi sisa-sisa; 
itu pun kalau nasib beruntung. 
bila tidak? cukuplah menelan ludah dalam nun.., 


pernahkah ada sadar 

akan dahaga yang hanyutkan pahala 
seluruh ayat dibuat sia-sia. 


tentulah bukan untuk mengajak 

di antara kita 
panjatkan doa jauhkan siksa 
sementara sebatas meronta-ronta; 
dan tubuh sebatas sisakan tengkorak. 


mim.., 

satu hurup yang jadi penghubung
berkepala besar bertubuh kecil; 
senebtara ekor terhimpit nan terjepit. 
menanti kebebasan dalam mim..,
[baca selengkapnya..]

Puisi - Mengeja Jalanmu

Mengeja Jalanmu

Puisi - Mengeja Jalanmu

lama aku mengeja bait demi bait jalanmu.
setiap tikungan adalah garis lampahmu.
persyarikatan bukanlah hambatan.
melainkan kesampaian tujuan adalah harapan.

sesekali dalam persimpangan,
memilih arah tekadkan pilihan.
jalanmu meski terjal kian memaksa,
menuntun arah kaki hingga ujungnya.

bukan misteri bukan pula daun,
bayangnmu hanya hadir di balik embun.
bukan misteri bukan pula aksara,
mengenangmu sepanjang jalan kereta.

lagi-lagi aku berlama mengeja jalanmu.
tidaklah mudah ternyata hingga memahami.
akibat terlalu tebal embun di hulu.
jalanmu tetaplah aku arungi.

nun jauh cakrawala,
tetap pula kutemukan jejakmu.
bukan tiga bukan pula dua,
cukuplah satu untuk bermadu.
[baca selengkapnya..]

Cerpen " Nada Dawai Harapan "

Cerpen Nada Dawai Harapan

Hari Pertama Bekerja.

Perasaan ku tidak seindah siulan burung tetangga di depan rumah mertua ku. Mungkin burung itu menyambut pagi dengan senyuman dan kecerian dengan harapan ia bisa terbang bebas dari sangkar yang mungkin sudah cukup lama ia di dalamnya. Aku iri dengan kenari, hidupnya mungkin terkurung di dalam sangkar dan terbelenggu dengan aturan majikannya. Namun iya masih tetap memiliki cinta dari majikan bahkan dari dambaan hati nya. Lain dengan suasana hati ku yang selalu gersang dan jauh dari kecerian jika aku masih diam di sangkar ini. Damba ku kapan aku bisa terbang bebas membawa anak dan istriku mengarungi haparan langit dan berlayar di samudra yang luas dan penuh kedamaian.

Suasana sangkarku masih tetap genting dan membuat ku jengah di dalamnya. Sesekali ingin sekali aku memberikan siulan yang mampu meminimalisir suara bising ke congkakan di dalam sangkar ini.Memang lebih baik mendiami sangkar sendiri dari pada makan gratis tapi tinggal di sangkar orang lain.

Cerpen " Nada Dawai Harapan "

Pagi itu setelah ku tenggak segelas kopi panas buatan istri tercintaku. Aku mulai hinggap ke kamar mandi mushola yang usang itu. Aku memang terbiasa membersihkan badan ku di WC kecil mushola. Selain lebih tenang juga lebih nyaman ketimbang Toilet VIP milik mertua ku. Soalnya tak jarang pas aku masuk Toilet VIP itu, mungkin baru 50 detik di luar toilet sudah banyak yang antri. Jadi aku lebih memilih mandi di WC mushola meski fasilitas nya tidak sebaik Toilet VIP di rumah mertuaku.

Lagi-lagi aku terlambat, pagi itu jam sudah mulai menunjukan pukul 08:45 WIB. 

Bersambung...

[baca selengkapnya..]

" Nada Dawai Harapan"

Cerpen " Nada Dawai Harapan "

Bagian 1

Hari - ini cahaya sinar matahari bersinar terik membakar setiap insan yang setia menapaki bumi untuk berpijak dengan mempunyai berbagai tujuan hidup. setiap keringat yang mereka keluarkan untuk melangsungkan hidup mereka masing-masing bahkan untuk kelangsungan hidup keluarga mereka. Aku berdiri di celah-celah perjalanan langkah kaki mereka. Mungkin aku bukan siapa-siapa bagi mereka, tapi betepa hinanya diri ku jika harus ku akhiri hidup ini hanya karna satu sandungan dalam hidup ku.

" Nada Dawai Harapan"

Nama ku Dolken, buku harian ini yang selau menemani hidup ku. Ternyata setelah usai perjalan hidup ku di bangku Putih Abu, kini kulanjutkan kehidupan ku yang sebenarnya. cukup usang mungkin jika ku harus buka buku halaman terakhirku di masa Putih Abu. Bahkan mungkin kini sudah hilang menjadi abu terbakar masa tertiup angin-angin kehidupan. sekarang aku bekerja sebagai pengantar pesanan di sebuah perusahaan swasta di kota Tasikmalaya dekat Mushola yang sudah usang tak terpakai. Ternyata pekerjaan ini tidak semudah yang aku bayangkan, tadinya dalam angan ini tergambar betapa mudahnya pekerjaan kurir yang menurutku mungkin akan sedikit sekali orang yang memesan Product yang bukan produk makanan bahkan alat pokok yang setiap hadi pasti di pergunakan.

Hari pertama bekerja.

Bersambung ... Ke - Cerpen Nada Dawai Harapan Bag II
[baca selengkapnya..]

Puisi Cinta

Puisi Cinta

Puisi Cinta

Setiap ku tatap condong melaui angin
Disana aku melihat siulan harapan yang dulu sirna
Namun tirai memori menghalangi semua
Alu pun terdiam di pekatnya gelap.

Aku mencintai teman hidup ku
Namun bukti cintaini tak iya rasakan
Seperti aku merasakan bukti cintanya.

Bukan karena aku tak cinta
Atau bahkan bukan karana aku tidak mengharapkan nya
Namun itu penggalan dari ke kosongan ku
mungkin tak setiap perkataan ku indah untuk nya

Namun ku indahkan setiap tuturnya
kini cintaku kembali terbagi
Terbagi untuk sang buah hati
Kini ia hadir di tengah bunga cinta yang dulu kita tanap

Dan sekarang sudah berbuah manis
Hadirnya lentera harapan di kehidupan kita
Mencadi penarang sekaligus penyempurna kelangsungan cinta kita
Aku berharap kepadanya
Agar kelak menjadi Harapan Cinta kita



[baca selengkapnya..]

Cerpen

SINGKONG DAN UBI

Cerpen

Di suatu persimpangan jalan, saya berpapasan dengan salah satu saudara. Ia putra dari kakak bapak saya. Sudah lama kami tidak bertatap muka.
Kini, ia berprofesi sebagai pencari injuk, bahan baku sapu. "Memelihara kerbau sudah semakin tidak menguntungkan," akunya.
Saya kurang tahu pasti, apa karena saya yang selalu merasa muda, sehingga muka saudara saya tampak begitu tua?
Bahagianya saya, saat mendengar kabar, putrinya yang sulung kini sedang kuliah. "Di Unsil," katanya, sumbringah. Sayang, ia sendiri tidak tahu, bidang studi apa yang tengah ditempuh oleh putrinya.
Putra-putrinya sudah lima. Si sulung mahasiswa. Kedua, SMA. Ketiga, SMP. Keempat, SD. Si bungsu, TK. Biaya studi semua anaknya, alhamdulillah, terpenuhi. Ia mengakuinya sambil mesem dan menepuk jidat.
"Si bungsu orangnya beda dari yang lain. Dia tidak suka nasi. Makannya singkong dan ubi. Mungkin karena nanti akan semakin sulit melihat pohon padi," katanya, sebelum kami berpisah lagi.

INGAT SHALAT

Sudah cukup lama saya berharap ikut merawat ibu. Benturan keras di pelipis bagian kanan, telah menyebabkan ibu terbaring, sejak satu setengah tahun lalu. Seluruh anggota tubuh ibu bagian kanan, total lumpuh. Tapi, akalnya masih bekerja. Sayang, lisannya tidak lagi mampu melafalkan kata-kata dengan sempurna, kecuali "ALLAHUAKBAR".
Kesampaian juga harapanku. Sekarang, saat ibu bertakbir, saya maklum, ibu memberi isyarat bahwa beliau punya maksud.
Repotnya, saya mesti menebak, pertolongan apa yang ibu harapkan?
Belakangan ibu selalu meminta saya memandu mendirikan shalat, sambil berbaring, seperti biasa.
Repotnya lagi, setiap terbangun dari tidur, termasuk pada dini hari, ibu selalu bertakbir keras. Saat saya hampiri, ibu sering meminta dipandu mendirikan shalat, padahal bukan pada waktunya.
Saya jadi membayangkan, mungkin dulu, saat saya masih bocah, ibu pernah mengajarkan tatacara shalat, sementara saya terbaring di pangkuannya.

MASA SULIT

Aku tidak tahu, apa setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit? Dari orang-orang yang kukenal, jawabannya adalah "iya"!
"Anda tak berkuasa atas hidup Anda, jangan coba-coba mengakhirinya."
"Apa gunanya hidup saya bagi orang lain?"
"Siapa tahu? Kesaksian hidup Anda yang penuh penderitaan dan membutuhkan kesabaran luar biasa itu saja sudah menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi dunia yang dipenuhi ketidaksabaran ini."
Aku memang mengerti tentang sedikit hal, seperti: sekali saja kau mengeluhkan nasib buruk, maka keluhan itu takkan pernah habis.

TUNGGAL

Selain Tuhan, rasanya sulit mencari sesuatu yang tunggal dari yang lain. Sekali Anda mengambil satu keputusan, misalnya, keputusan-keputusan lain akan terus menuntut untuk Anda ambil. Sama halnya dengan berbohong juga.

DIRINDUKAN PULANG

Ponselku berdering satu kali
menandai pesan singkat
dari sebrang telah datang
Ia bertanya tentang pulang.
[baca selengkapnya..]

Literary Journalism

Literary JournalismDalam bahasa Indonesia, terma literary journalism bisa diartikan jurnalistik sastra. Praktiknya, jurnalistik sastra bukan berarti karya tulis yang membahas mengenai sastra. Tapi sebuah style pelaporan peristiwa (berita) yang mirip karya sastra. Bedanya adalah produk literary journalism bersifat faktual bukan fiktif; seperti cerpen dan novel. Oleh karena itu, kalangan jurnalis menyebutnya dengan istilah new journalism, jurnalistik (gaya) baru.Satu hal yang menjadi daya tarik dari literary journalism adalah terletak dalam elaborasi dua entitas (keterampilan) yang berbeda, yakni (keterampilan) jurnalistik dan sastra. Jurnalistik di satu sisi, merupakan keterapilan mencari, mengungkap, mengklasifikasi, menulis, mengedit dan mempublikasikan fakta di media massa. Di sisi lain, sastra menawarkan sebuah style tulisan dengan kekuatan imajinative description, detil, membangkitkan human interest, dan bahasa yang lentur, santun, halus, renyah dibaca bahkan sesekali bergaya puitik.
Literary Journalism

Alhasil pertautan antara jurnalistik dan sastra akan menghasilkan sebuah karya jurnalistik yang exelence. Karya yang selain memiliki unsur keakuratan data dan fakta, enak dibaca, juga tajam dalam menyentuh sense pembaca. Sayang, untuk di Indonesia karya ini cukup langka, sulit ditemukan. Sepertinya hanya tempo dari sekian banyak majalah yang biasa menyajikan karya literary journalism dengan baik. Untuk harian umum, Kompas juga mulai sedikit bergaya magajin. Padahal banyak jurnalis sekaligus sastrawan yang kiranya dapat dijadikan “guru”. Sebut saja Rosihan Anwar, Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis, Seno Guira Ajidarma, Isma Sawitri, dan Budiman S. Hartoyo.

Untuk konteks kekinian, bila para jurnalis mau sedikit jeli, tekun, dan sabar dalam proses refortase, sesungguhnya banyak hal yang menarik untuk disajikan dengan gaya sastra. Seperti perubahan perilaku caleg yang kalah dalam pemilihan, eksotisme alam yang kian hari kian memudar, pelaku industri kreatif dengan pasilitas manual, dan yang paling menarik adalah peristiwa gangguan jiwa massal di kecamatan Kersamanah, kabupaten Garut, Jawa Barat.

Berita mengenai fenomena gangguan jiwa masyarakat kecamatan Kersamanah, alangkah lebih “bersuara” jika berita dikemas dengan gaya sastra. Artinya reforter (wartawan) menarasikan seluruh peristiwa yang terjadi. Dari mulai aktivitas kehidupan masyarakat sehari-hari, mula-mula munculnya gejala kejiwaan, sebab-sebabnya, perubahan perilaku individu, sampai puncaknya masyarakat benar-benar mengalami kegilaan.
Cerita nyata

Bentuk literary journalism lebih tepat bila dikategorikan sebagai cerita (baca: kisah) nyata. Cerita yang kecil kemungkinan mengandung kebohongan. Tapi status literary journalism tidak setingkat dengan karya sastra realis. Hanya terdapat persamaan dan perbedaan antara keduanya. Kesamaannya terletak dalam rujukan peristiwa, data, dan fakta. Bedanya, literary journalism “mengharamkan” bumbu nilai-nilai fiktif. Sedangkan sastra realis begitu kental dengan muatan-muatan fiktif sebagai bumbu cerita.

Untuk ranah Jawa Barat yang lebih terkenal dengan budaya tutur daripada budaya baca. Literary journalism akan efektif sebagai jembatan agar masyarakat lebih melek aksara. Karena literary journalism (kurang lebih) bergaya tutur. Selain menyajikan cerita, literary journalism dilengkapi dengan bahasa yang variatif, santai, ringan, dan dibantu dengan imajinasi yang menempatkan pembaca seolah-olah berada di lokasi kejadian. Dalam arti lain, pembaca diajak berkelana ke suatu tempat dan di sana bertemu dengan banyak orang.
Permasalahannya adalah apakah hal ini dapat diwujudkan di Jawa Barat? Jawabannya tentu saja bisa. Sebab, Jawa Barat memiliki segudang sastrawan yang dapat digali ilmunya oleh para wartawan. Seperti Acep Zamzam Noor, Hawe Setiawan, Usep Romli HM, Ajip Rosidi, Soni Farid Maulana dan yang lainnya. Setidaknya belajar bagaimana menulis dengan gaya cerita pendek dan novel.

Posisi satra
Seno Gumira Ajidarma mengungkapkan “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Artinya sastra boleh diandalkan sebagai senjata alternatif industri pers ketika posisinya ditekan. Kondisi ini sering dialami oleh pers yang menganut outoriterian pers system, yang pernah dialami oleh pers Indonesia pada orde baru.

Namun kondisi jurnalisme yang bebas bukan berarti sastra tidak berhak untuk bicara. Justru dalam kebebasan pers kali ini sastra tetap harus bicara. Bahkan patut lebih kreatif lagi. Gunanya agar pers tidak kehilangan pijakan lantas beralih ke jalan kebablasan. Kebablasan pers secara fundamental dapat ditilai melalui bahasa yang digunakan si wartawan. Karena kekuatan pers sangat ditentukan oleh kekuatan bahasa. Dalam hal ini, sastra memiliki cara yang jitu dalam menyaring bahasa yang tepat dan tetap santun.

Beda halnya dengan Goenawan Mohammad yang dalam buku “Sastra dan Kekuasaa” menyatakan “pada awalnya, sastra adalah komunikasi.” Jika benar demikian, maka sastra dan jurnalistik kedudukannya sama-sama di bawah rumpun komunikasi. Jadi keduanya tidak bisa dipisahkan lagi.

Akhirnya patut untuk mulai bertanya, niatkah kita megindahkan gaya literary journalism dalam lembaran media massa? Jawabannya tentu saja diserahkan pada institusi media massa yang ada.(ARI)
[baca selengkapnya..]

Janji Terakhir

Janji TerakhirSemua taman saya tidak akan percaya. Saya orang, selalu kesepian setiap malam hari datang menyapa. Saya orang. Kesepian karena diputuskan pacar empat bulan silam. Sebab saya orang, yang biasa beri semua teman saya lelucon pemancing tawa. Tapi hanya dalam siang hari saja. Sekali lagi saya katakan. Saya orang, selalu kesepian setiap malam hari menyapa.

Semua teman saya tidak akan percaya. Kebencian pada mantan pacar saya begitu besar. Sungguh saya amat benci dia. Wanita yang saya puja, cinta, sayang setulus hati dan segenap asa dalam jiwa. Tega tanduskan ladang kasih yang pernah saya pupuk dan siram dengan air cinta yang jernih. Mestinya dapat tumbuh subur dan berbunga, pikir saya. Dan pada akhirnya akan berbuah kebahagiaan bersama.

“Aku salut padamu kawan!!!” ucap teman saya suatu hari. “Masih sudi temui mantan pacar kamu. Apalagi sampai hati membantunya” lanjutnya. “Padahal jelas-jelas dia tega hianati kestiaan dan ketulusan cintamu. Jika aku di posisimu, mungkin akan sangat membencinya. 

Jangankan menemui dan membantunya, melihat mukanya saja aku tak sudi”.

“Kamu salah sobat” saya menjawab singkat.

“Salah gimana???”

Janji Terakhir

Saya diam tak menjawab. Rokok di tangan saya hisap. Kopi hitam pun saya teguk, meski hanya sedikit. Kepulan asap rokok melayang buyarkan harap teman saya akan keterangan ucapan saya tadi.

Sinar matahari panas bakari kulit. Kulit saya yang terlanjur sudah hitam. Tapi kata teman-teman saya, saya nampak manis jika tersenyum. Anehnya cuaca hari saat ini. Meski panas, tingkat kelembaban udara cukup memaksa tubuh menggigil. Padahal ini musim musim kemarau. Bikin kering kulit saja.

“Karena saya amat membencinya. Melebihi kebencian yang kamu utarakan barusan” jawab saya singkat. Lantas diam kemudian, lagi.

Teman saya bengong tanda heran. Heran akan jawaban saya yang menyimpan kebencian yang teramat besar. Saking besar rasa herannya, sampai-sampai tak kuasa tuk tanya lagi.
Memang benar. Jangankan teman saya, saya sendiri tidak kurang herannya. Saya sangat membencinya. Tapi jujur pula harus saya akui, untuk membuang kebencian itu tiada jalan lain. Selain duduk dekat dengannya; bercerita, bercanda, dan sesekali saya tertawa bareng bersamanya. Hanya di sisinya saya merasa nyaman, usir segala bosan dan sepi. Di sisinya pula saya masih bisa merasa bahagia dan bangkitkan gairah hidup.

* * *
Dua bulan terakhir saya tidak jumpai mantan pacar saya. Tidak juga berkomunikasi lewat ponsel. Saya yang sengaja mengambil jalan itu. SMS darinya tak pernah lagi saya jawab. Sederhana saja saya pikir, takut lebih lanjut membara rasa cinta saya dan harus lebih kecewa kemudian.

Mungkin dia bosan kirim SMS tanpa ada balasan. Dia pun berhenti kirim SMS, sudah dua bulan lamanya. Di balik rasa tersiksa. Lumayan, saya jadi bisa melupakannya. Rasa ingin bertemu kian berkurang, bahkan sirna sama sekali. Saking bencinya, saya bertekad untuk tidak menyapa, tidak menghadapkan muka ke arahnya. Biar saya akan selalu berpaling darinya.

Waktu menakdirkan lain. Saya harus berpapasan di tengah jalan, setelah dua bulan lamanya. Tak etis kiranya jika tak bertegur sapa. Lagi-lagi hati saya luluh dan layani sapaannya. Tangannya yang mulus pernah saya sentuh dia ulurkan. Saya sambut dengan tulus. Sperti biasa dia letakkan tangan saya di pipinya. Alamaaaa… sungguh ini yang telah lama saya rindukan.

“Hai… lama tak jumpa. Bagaimana kabarnya” dia menyapa.

“Saya baik-baik saja” jawab saya tetap singkat. “Situ gi mana?” saya balik Tanya.

“Masih utuh… Seperti dapat dilihat” katanya bercanda. Seraya melempar senyuman khas 
dari gigi gingsulnya. Sungguh tidak berlebihan bila saya melihat kemiripan wajah dengan Sandra Dewi, pemain sinetron yang lagi naik daun.

“Senang bisa berjumpa. Terutama karena keutuhan dirumu” saya membalas senyumannya.

Kami saling bertukar senyuman. Senyuman yang selama dua bulan tidak saling menyapa.

“Kamu sombong akhir-akhir ini. Jangankan berkunjung ke kost-an, balas SMS aja seakan tidak minat”.

Sombong??? Tanyaku dalam hati. I-A kali, saya sedikit sombong. Akibatnya saya tak mampu menjawab kecuali tersenyum malu.

“Sekarang aku mau pulang liburan. Kapan pulang juga?”

“Tidak tau. Saya benci kampung halaman. Di sana hanya memperpanjang catatan penat saja. Di sini lebih rame meski sedikit kere” di akhir sempat saya sisakan senyuman untuknya sebagai penutup.

“Kalau pulang, jangan lupa main ke rumah. Aku juga akan sama, di rumah pasti bosan”.
“Saya tidak janji. Kalo sempat pulang akan mampir. Kalo tidak, saya tak akan memaksakan diri”

“Terus, di sini mau ngapain? Bukankah sama-sama libur”

Kali ini juga saya tidak menjawab selain memberi dia senyuman.
Sayang, namanya berpapasan, tidak pernah lama, lalu kami berpisah lagi. Dia tempuh jalan dan tujuannya. Saya tempuh jalan dan tujuan saya. Sama-sama menempuh jalan dan tujuan masing-masing. Kami pun benar-benar berpisah.

Tapi sebelum berpisah saya sempat berkata untuknya. 
“Jangan lupa, kita masih punya satu janji”.

“Janji apa???” dia menyerang dengan Tanya. Kulit dahinya mengerut tanda mengeryit. 
Heran sepertinya dia, atau tidak mengerti.

“Menikmati cahaya purnama bersama. Sehabis pulang nanti saya akan menagih janji itu” lantas saya pergi, tak beri dia kesempatan tuk ngomong lagi.

Dalam perjalanan di balik perpisahan, sempat saya melihat tatapan matanya. Tiada banyak yang berubah. Masih menyimpan rasa itu. Rasa sanyang yang pernah saya dapatkan. Rasa sayang yang sedikit telah terkecewakan. Karena tak beri kesempatan lagi. Karena menolak keinginan untuk terus bersahabat.

* * *


“Purnama, kini kehadiranmu yang ditunggu benar-benar tiba. Terang-terangan kau hadir kepermukaan seterang cahayamu” hati saya meracau di malam purnama. Dia, mantan pacar saya duduk di samping saya. Di atas rumput hijau di bawah kaki gunung.

“Tak percaya rasanya mesti tumbuh seusia jagung” kata saya pelan.

Dia diam. Tangan saya letakkan melingkari pinggulnya. Dia sandarkan punggungnya di dada. Hewan malam bersiul tembangi kami. Sungguh syahdu saya rasa. Saya usap kepalanya, membelai panjang rambutnya, dan saya ucapkan dalam hati. Sungguh aku masih sayang kamu, Andriani.

Tidak lebih dari dua jam, waktu mamaksa kami pulang. Saya antar dia pake motor hingga depan kamar tidurnya. Sebelum pisah saya selipkan secarik kertas di saku jaketnya.
Kertas yang saya tulis di dalamnya. “Ini adalah malam terakhir hubungan kita. Pada akhirnya tiada lagi janji yang mesti dipenuhi. Saya berharap kita tak pernah bertemu lagi, apalagi menjalin hubungan kasih bersama. Terimakasih untuk malam ini, good bye”. (ARI)
[baca selengkapnya..]