Puisi | Tak Ada Kata Lagi
Tak ada kata lagi untuk memenuhi undanganmu.
Denang sepenuh insyaf telah aku utarakan kala itu.
Sementara purnama memandang, menyaksi.
Tentu takan pernah lupa.
Memang..,
Aku masih menyimpan satu janji.
Yang entah mampu ditepati, aku pun tidak pasti tahu.
Tak ada kata lagi untuk memuaskan hasrat sanubarimu.
Seperti bentangan Ramadhan di bawah beringin itu.
Saat kau sandarkan kepalamu di dada bidang ini.
Dan niatku tuk beranjak ke Ibu Kota kau cegah.
"Tak perlulah kau panjangkan rambutmu lagi." Tukasmu berkaca-kaca.
Sebab tak ada kata lagi.
