Cerpen " Nada Dawai Harapan "

Cerpen Nada Dawai Harapan

Hari Pertama Bekerja.

Perasaan ku tidak seindah siulan burung tetangga di depan rumah mertua ku. Mungkin burung itu menyambut pagi dengan senyuman dan kecerian dengan harapan ia bisa terbang bebas dari sangkar yang mungkin sudah cukup lama ia di dalamnya. Aku iri dengan kenari, hidupnya mungkin terkurung di dalam sangkar dan terbelenggu dengan aturan majikannya. Namun iya masih tetap memiliki cinta dari majikan bahkan dari dambaan hati nya. Lain dengan suasana hati ku yang selalu gersang dan jauh dari kecerian jika aku masih diam di sangkar ini. Damba ku kapan aku bisa terbang bebas membawa anak dan istriku mengarungi haparan langit dan berlayar di samudra yang luas dan penuh kedamaian.

Suasana sangkarku masih tetap genting dan membuat ku jengah di dalamnya. Sesekali ingin sekali aku memberikan siulan yang mampu meminimalisir suara bising ke congkakan di dalam sangkar ini.Memang lebih baik mendiami sangkar sendiri dari pada makan gratis tapi tinggal di sangkar orang lain.

Cerpen " Nada Dawai Harapan "

Pagi itu setelah ku tenggak segelas kopi panas buatan istri tercintaku. Aku mulai hinggap ke kamar mandi mushola yang usang itu. Aku memang terbiasa membersihkan badan ku di WC kecil mushola. Selain lebih tenang juga lebih nyaman ketimbang Toilet VIP milik mertua ku. Soalnya tak jarang pas aku masuk Toilet VIP itu, mungkin baru 50 detik di luar toilet sudah banyak yang antri. Jadi aku lebih memilih mandi di WC mushola meski fasilitas nya tidak sebaik Toilet VIP di rumah mertuaku.

Lagi-lagi aku terlambat, pagi itu jam sudah mulai menunjukan pukul 08:45 WIB. 

Bersambung...