SINGKONG DAN UBI
Di suatu persimpangan jalan, saya berpapasan dengan salah satu saudara. Ia putra dari kakak bapak saya. Sudah lama kami tidak bertatap muka.
Kini, ia berprofesi sebagai pencari injuk, bahan baku sapu. "Memelihara kerbau sudah semakin tidak menguntungkan," akunya.
Saya kurang tahu pasti, apa karena saya yang selalu merasa muda, sehingga muka saudara saya tampak begitu tua?
Bahagianya saya, saat mendengar kabar, putrinya yang sulung kini sedang kuliah. "Di Unsil," katanya, sumbringah. Sayang, ia sendiri tidak tahu, bidang studi apa yang tengah ditempuh oleh putrinya.
Putra-putrinya sudah lima. Si sulung mahasiswa. Kedua, SMA. Ketiga, SMP. Keempat, SD. Si bungsu, TK. Biaya studi semua anaknya, alhamdulillah, terpenuhi. Ia mengakuinya sambil mesem dan menepuk jidat.
"Si bungsu orangnya beda dari yang lain. Dia tidak suka nasi. Makannya singkong dan ubi. Mungkin karena nanti akan semakin sulit melihat pohon padi," katanya, sebelum kami berpisah lagi.
INGAT SHALAT
Sudah cukup lama saya berharap ikut merawat ibu. Benturan keras di pelipis bagian kanan, telah menyebabkan ibu terbaring, sejak satu setengah tahun lalu. Seluruh anggota tubuh ibu bagian kanan, total lumpuh. Tapi, akalnya masih bekerja. Sayang, lisannya tidak lagi mampu melafalkan kata-kata dengan sempurna, kecuali "ALLAHUAKBAR".
Kesampaian juga harapanku. Sekarang, saat ibu bertakbir, saya maklum, ibu memberi isyarat bahwa beliau punya maksud.
Repotnya, saya mesti menebak, pertolongan apa yang ibu harapkan?
Belakangan ibu selalu meminta saya memandu mendirikan shalat, sambil berbaring, seperti biasa.
Repotnya lagi, setiap terbangun dari tidur, termasuk pada dini hari, ibu selalu bertakbir keras. Saat saya hampiri, ibu sering meminta dipandu mendirikan shalat, padahal bukan pada waktunya.
Saya jadi membayangkan, mungkin dulu, saat saya masih bocah, ibu pernah mengajarkan tatacara shalat, sementara saya terbaring di pangkuannya.
Kesampaian juga harapanku. Sekarang, saat ibu bertakbir, saya maklum, ibu memberi isyarat bahwa beliau punya maksud.
Repotnya, saya mesti menebak, pertolongan apa yang ibu harapkan?
Belakangan ibu selalu meminta saya memandu mendirikan shalat, sambil berbaring, seperti biasa.
Repotnya lagi, setiap terbangun dari tidur, termasuk pada dini hari, ibu selalu bertakbir keras. Saat saya hampiri, ibu sering meminta dipandu mendirikan shalat, padahal bukan pada waktunya.
Saya jadi membayangkan, mungkin dulu, saat saya masih bocah, ibu pernah mengajarkan tatacara shalat, sementara saya terbaring di pangkuannya.
MASA SULIT
Aku tidak tahu, apa setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit? Dari orang-orang yang kukenal, jawabannya adalah "iya"!
"Anda tak berkuasa atas hidup Anda, jangan coba-coba mengakhirinya."
"Apa gunanya hidup saya bagi orang lain?"
"Siapa tahu? Kesaksian hidup Anda yang penuh penderitaan dan membutuhkan kesabaran luar biasa itu saja sudah menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi dunia yang dipenuhi ketidaksabaran ini."
"Apa gunanya hidup saya bagi orang lain?"
"Siapa tahu? Kesaksian hidup Anda yang penuh penderitaan dan membutuhkan kesabaran luar biasa itu saja sudah menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi dunia yang dipenuhi ketidaksabaran ini."
Aku memang mengerti tentang sedikit hal, seperti: sekali saja kau mengeluhkan nasib buruk, maka keluhan itu takkan pernah habis.
TUNGGAL
Selain Tuhan, rasanya sulit mencari sesuatu yang tunggal dari yang lain. Sekali Anda mengambil satu keputusan, misalnya, keputusan-keputusan lain akan terus menuntut untuk Anda ambil. Sama halnya dengan berbohong juga.
DIRINDUKAN PULANG
Ponselku berdering satu kali
menandai pesan singkat
dari sebrang telah datang
Ia bertanya tentang pulang.
menandai pesan singkat
dari sebrang telah datang
Ia bertanya tentang pulang.
