Aku telah temukan kini karya seni paling indah
Dalam jerih payah;
Dari harum keringat mendiang ayah
Yang setiap detik pikirnya resah
"Masih bisakan anak-anakku esok masuk sekolah?"
Dengan semangat, tubuh dipaksa basah
Beserta sepasang kerbau di muka, membajak sawah
Yang luasnya tak sampai satu "H"
Dan hanya cukup hibur lara di kala senja
Aku masih teringat bagaimana kau ajarkan
Rahasia seni paling indah
Dengan tumpukan tanah basah
Akibat guyuran hujan kala pemakaman
Aku juga masih teringat
Harum angus keringat
Kita saat sama-sama buka baju di bawah panas
Sambil menyiapkan hiliran kebun tomat
Dan tak kuat dengan panas yang menyengat
Oh ayah…,
Aku kini mulai paham
Akan makna pundakmu yang lebam
Akibat puluhan tahun mencari pakan kerbau
Baik panas maupun hujan tak jadi hirau
Aku kini mulai paham
Sebab jalanmu dulu ada dalam jalanku kini
Mengukir makna seni terindah
Dalam lelah
Oh ayah..,
Ini janji sajak untukmu
Telah aku penuhkan
Sebagai tanda sama-sama pengukir seni
Terindah dalam lelah
Dalam jerih payah;
Dari harum keringat mendiang ayah
Yang setiap detik pikirnya resah
"Masih bisakan anak-anakku esok masuk sekolah?"
Dengan semangat, tubuh dipaksa basah
Beserta sepasang kerbau di muka, membajak sawah
Yang luasnya tak sampai satu "H"
Dan hanya cukup hibur lara di kala senja
Aku masih teringat bagaimana kau ajarkan
Rahasia seni paling indah
Dengan tumpukan tanah basah
Akibat guyuran hujan kala pemakaman
Aku juga masih teringat
Harum angus keringat
Kita saat sama-sama buka baju di bawah panas
Sambil menyiapkan hiliran kebun tomat
Dan tak kuat dengan panas yang menyengat
Oh ayah…,
Aku kini mulai paham
Akan makna pundakmu yang lebam
Akibat puluhan tahun mencari pakan kerbau
Baik panas maupun hujan tak jadi hirau
Aku kini mulai paham
Sebab jalanmu dulu ada dalam jalanku kini
Mengukir makna seni terindah
Dalam lelah
Oh ayah..,
Ini janji sajak untukmu
Telah aku penuhkan
Sebagai tanda sama-sama pengukir seni
Terindah dalam lelah
