Tanah, Air, Api dan Udara - Pantaskah bila beriri diri, pada tanah dan air, dua anasir pasif terciptanya bumi. Tentu iri pada tabiatnya yang stabil, lirih tanpa keluh, dan semangatnya yang tak pernah pudar. Tak pula kurasakan kecongkakkan dari keduanya, yang berpuisi dengan lembut. menghangatkan laju hidup, kala panas dan hujan, kala pagi dan sore, kala siang dan malam, kala sama-sama elegi mentari selimuti maghrib dan subuh.
Kadang juga berharap serupai api dan udara, dua anasir aktif terciptanya bumi. Meski memang berlainan tabiat dari yang kedua sebelumnya. Liar, selalu beranjak, tak pernah berharap terpenjara, adalah puisinya yang kadang congkak.
Api, dalam besar dan kecil sama saja, dapat menghanguskan segala yang ada. Tak serupa air, menghanyutkan kala bandang saja. Pun udara, riuhnya seperti seruling bambu dalam tiupan mulut si anak gembala. Kecil terdengar merdu, besar gegerkan penghuni desa, sebab pertanda ada malapetaka.
Apa harus juga kuutarakan tabiat tanah? Sementara semua mata menyaksi, Pasirjambu mendapat perlakuan tanah.
Baca Juga mengenai >>>
Baca Juga mengenai >>>
