Ada jiwa yang terkulai
Seiring terompet baru
Memecah paruh malam
Meski tak sampai tumpah
Mata hatinya bergenangkan
duka menjadi yatim;
Untuk kali ketiga tahun
Dengan segala daya upaya
Bahkan tatapan mata yang selalu
jadi kerinduan itu;
Ditepis dengan berat rasa
“Biar malam ini kuteguk seorang diri saja”
Dalam ruang sunyi
Menelan lirih dalam hati sendiri
Tanpa anggur, tanpa gele, tanpa kokain lagi.
Dalam ruang sunyi
Cukup melukis mimpi
Yang jadi kerinduan pagi
Hari-hari perbincangan di pinggir kali
Sebelum benar-benar bertarung sendiri
“Biar malam ini kuteguk seorang diri saja”
Tanpa ingar-bingar Cemara
Pengingat luka kebersamaan kita
Sebelum segenggam tanah merah
Benar-benar jadi warisan gairah;
Perjuangan gaya hidup kita tetap lestari
Biar sampai jiwa terkulai
Biar mata hati bergenang duka
Biar terompet itu pecahkan paruh malam
